Kamis, 20 Oktober 2016

Sanksi Mendidik Bagi Siswa Perokok



Kasus foto siswa perokok di samping guru sambil mengangkat kaki di atas meja beberapa waktu yang lalu menjadi viral di media massa dan media online. Sebagian besar masyarakat Indonesia mengecam perbuatan siswa yang berasal dari Makasar Sulawesi Selatan. Foto siswa tersebut merupakan siswa kelas XII SMA berinisial AS (16) yang merokok dan mengangkat kaki disamping guru bahasa Indonesia bernama Ambo.

Apa yang dilakukan oleh siswa tersebut jelas mengundang keprihatinan di masyarakat. Betapa tidak seorang siswa dengan santainya melakukan perbuatan tidak terpuji tersebut langsung disamping gurunya. Dalam hal ini menunjukkan bahwa siswa tersebut memang memiliki perangai yang kurang baik serta tidak memiliki sopan santun terhadap guru.

Apa yang dilakukan oleh siswa AS memang mendapatkan perhatian serius, bukan hanya oleh dinas pendidikan setempat melainkan juga mendapatkan perhatian dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Bahkan Kemdikbud melakukan investigasi persoalan tersebut. Bahkan informasi dari berbagai sumber media online akhirnya siswa tersebut mendapatkan sanksi berupa skorsing dari sekolah. Hal tersebut dilakukan guna memberikan pelajaran bagi siswa yang bersangkutan agar tidak mengulangi perbuatannya.

Merokok di lingkungan sekolah jelas merupakan salah satu pelanggaran, baik itu dilakukan oleh guru maupun siswa. Siswa yang melanggar peraturan sekolah memang bersalah dan harus diberi sanksi supaya menimbulkan efek jera, baik bagi yang bersangkutan sendiri maupun bagi siswa lain. Oleh karena itulah, memberi hukuman kepada siswa yang bersalah sebenarnya bukan merupakan perkara yang sederhana. Di satu sisi hukuman tersebut harus bisa memberikan efek jera bagi siswa, tapi di sisi lain juga harus tetap menjadi bagian dari proses pendidikan.
 
Foto (detik.com)
Hukuman atau sanksi yang diberikan kepada siswa hendaknya memberikan hasil positif untuk mendisiplinkan siswa. Hukuman dengan cara melakukan skorsing kepada siswa merupakan salah satu langkah awal untuk mendidik mereka lebih manaati peraturan sekolah. Hal itu juga berlaku bagi semua warga sekolah, siapa saja yang melanggar aturan harus diberikan sanksi sesuai dengan tingkat kesalahan yang diperbuat.

Apa pun kesalahan yang dibuat oleh siswa, pilihan pertama yang harus diambil oleh guru sebaiknya adalah memberi peringatan dan bimbingan. Memberikan sanksi skorsing merupakan salah satu bentuk hukuman dengan tujuan agar siswa tersebut bisa memperbaiki perilakunya. Namun hal tersebut juga harus dibarengi dengan memberikan bimbingan melalui guru Bimbingan dan Konseling (BK).

Memberikan sanksi sekaligus bimbingan bagi siswa yang melakukan kesalahan bertujuan agar siswa yang berbuat salah mau insaf atas kesalahannya serta mau memperbaikinya. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Umar Hamalik (1990:130). Dengan demikian siswa diharapkan akan memahami segala tingkah laku dan akibat dari perbuatannya. Hal semacam ini akan membawa siswa pada kematangan berfikir dan kedewasaan siswa. Jika hal itu sudah terbentuk, maka dengan sendirinya kedisiplinan siswa tentu akan terbentuk.

Bukan itu saja, peran orang tua selama siswa diberikan sanksi skorsing di rumah juga sangat penting. Orang tua harus mampu memberikan bimbingan kepada anaknya agar ke depan anaknya tidak melakukan perbuatan serupa, maupun perbuatan tidak terpuji lainnya baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat luas. Oleh sebab itulah kasus siswa merokok di samping guru hendaknya dijadikan pelajaran bagi semua pihak (orang tua,  guru, siswa, sekolah, masyarakat, dan pemerintah) betapa pentingnya pendidikan budi pekerti bagi generasi penerus bangsa ini.

2 komentar:

  1. Memang nggak gampang menghindari rokok. Apalagi anak-anak, yang sudah tuapun susah ya :) harus leih tegas dan kasih efek jera biar kapok...

    BalasHapus