Senin, 31 Oktober 2016

Pendidikan Pesantren Penangkal Radikalisme.



Diskusi publik yang diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kota Semarang pada hari Sabtu 29 Oktober 2016 di Hotel Siliwangi Semarang memang penting. Tema yang dibahas pun sangat menarik yaitu “Pesantren dan Pendidikan Kontra Radikalisme”. Tema tersebut seakan ingin menegaskan kembali bahwa pendidikan pesantren adalah pola pendidikan yang tidak pernah mengajarkan paham radikalisme, sebaliknya pesantren senantiasa mengajarkan pendidikan Islam yang rahmatal lil alamin.

Jika kita berbicara mengenai pesantren, maka kita harus mengenal dulu apa itu pesantren atau pondok pesantren. Ada lima elemen dasar dari pondok pesantren yang tidak bisa dilepaskan dari profil sebuah pesantren, yaitu pondok, masjid, kitab klasik (kuning), santri dan kyai. Kelima unsur inilah yang yang kemudian dianggap sebagai pilar dasar sebuah pesantren. Tanpa adanya kelima hal tersebut maka tidak bisa disebut sebagai pesantren. Pesantren bersama kyai dan santrinya juga menjadi salah satu elemen pembangun bangsa Indonesia. Sebab pesantren merupakan salah satu penyokong utama eksistensi bangsa ini. Lembaga pendidikan agama tertua di Indonesia bersama para santrinya juga menjadi salah satu bagian terpenting lahirnya bangsa Indonesia, tanpa adanya peran santri mungkin bangsa Indonesia tidak bisa memperoleh kemerdekaannya.
 
dok.pribadi
Namun stigma yang berkembang akhir-akhir ini menjurus pada pandangan bahwa pesantren (pondok pesantren) merupakan akar terjadinya kekerasan, anarkisme, radikalisme serta terorisme yang terjadi di Indonesia. Hal itu dikarenakan para pelaku tindakan kekerasan tersebut rata-rata pernah mengeyam pendidikan di pesantren. Lebih khusus lagi persoalan terorisme di Indonesia selalu diidentikkan dengan pesantren.

Beberapa kasus terorisme di Indonesia seperti bom bali 1 dan 2 sampai terbaru bom Thamrin Jakarta pelakunya ternyata pernah nyantri di pesantren. Sehingga tidak mengherankan jika masyarakat luas, kemudian beranggapan bahwa pesantren adalah sarang teroris. Para pelaku terorisme Indonesia seperti Ali Imron, Amrozi cs memang alumnus sebuah pondok pesantren, namun bukan berarti masyarakat bisa dengan bebas menyebut bahwa pondok pesantren merupakan sarang teroris.

Fitnah yang kejam yang menyebut bahwa pondok pesantren merupakan sarang teroris tentu saja menyakiti kaum kaum santri utamanya mereka yang pernah atau sedang mengeyam pendidikan di pondok pesantren. Lebih-lebih para kyai yang memiliki pondok pesantren ikut-ikutan terseret kedalam pusaran fitnah yang sangat menyesatkan. Apalagi bagi para kyai Nahadaltul Ulama’ yang rata-rata memiliki pondok pesantren besar dengan jumlah santri mulai darii ratusan hingga ribuan yang ada di berbagai penjuru tanah air.

Harus diakui bahwa memang ada beberapa pondok pesantren di beberapa tempat yang berkaitan dengan pelaku terorisme. Menurut Dr. Najahan Musyafak Ketua Forum Kooordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah dalam diskusi yang digelar Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kota Semarang di Hotel Siliwangi Semarang 29 Oktober 2016 yang lalu menyebutkan bahwa diantaranya ponpes yang berkaitan dengan terorisme adalah ponpes Ngruki (Solo) pimpinan Abu Bakar Baasyir, ponpes Ibnu Mas’ud (Bogor), ponpes Miftahul Huda (Subang), ponpes Nurussalam (Ciamis), Ponpes Al Islam (Lamongan), ponpes Daarussyahdah (Boyolali), serta ada beberapa pesantren lainnya yang terindikasi berkaitan dengan kasus radikalisme dan terorisme.
 
dok. pribadi
Namun bukan berarti pondok pesantren yang berkaitan dengan terorisme tersebut dalam kesehariannya mengajarkan terorisme akan tetapi pelaku terorisme kebetulan berasal dari tempat tersebut. Bagaimanapun juga kita mengetahui bahwa tidak ada satu pondok pesantren pun di Indonesia ini memiliki kurikulum yang mengajarkan santrinya untuk berbuat kekerasan apalagi untuk melakukan tindakan terorisme.
Hal yang paling penting untuk diketahui adalah pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, yang senantiasa mengajarkan nilai-nilai Islam yang komprehensif dan moderat. Pesantren selalu mengajarkan nilai-nilai luhur akhlakul karimah, dan tak pernah sekalipun di dalam pesantren mengajarkan para santrinya untuk berbuat kekerasan. Oleh sebab itulah sangat salah kiranya jika pesantren dianggap sebagai sumber munculnya berbagai gerakan radikalisme maupun terorisme yang muncul belakangan ini.

Pesantren Penangkal Radikalisme

Bangsa indonesia pada dasarnya lahir dengan fitrah keragaman etnis, suku, agama, budaya, adat istiadat, bahasa serta kehidupan sosial. Keragaman tersebut merupakan refleksi dari sunnatullah, oleh sebab itulah realitas keragaman tersebut harus disikapi dengan cara melakukan ta’aruf (mengenal) antara satu dengan lainnya. Hal itu harus dilakukan agar tidak terjadi salah paham antar individu maupun kelompok masyarakat agar tidak memunculkan perbedaan yang berujung pada kekerasan yang bisa menimbulkan radikalisme maupun terorisme.

Pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan Islam yang telah lama mengajarkan nilai-nilai luhur dalam menghadapi berbagai keragaman yang terjadi. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya santri dalam satu pesantren yang berasal dari berbagai daerah dengan berbagai macam keragaman etnis, suku, budaya, kebiasan, bahasa maupun status sosial. Namun di dalam pesantren semua keragaman tersebut bisa berbaur menjadi satu dengan nama Santri. Hal itu membuktikan bahwa pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang sangat inklusif dan moderat sehingga dari sana akan memunculkan nilai-nilai ukhuwah islamiyyah,ukhuwah bashariyah dan ukhuwah wathaniyah.

Nilai-nilai luhur yang diajarkan di pesantren itulah yang sebenarnya merupakan salah satu kunci untuk menangkal paham-paham radikalisme ataupun terorisme yang saat ini sedang marak menyebar di tanah air. Menurut Dr. Syamsul Ma’arif ketua ISNU Kota Semarang sekaligus dosen UIN Walisongo Semarang yang pernah melakukan penelitian tentang pesantren menyebutkan bahwa dalam prespektif kebudayaan ajaran pesantren sesungguhnya dapat dijadikan sarana untuk melakukan counter terhadap berbagai paham radikalisme yang muncul belakangan ini karena pesantren sesungguhnya identik dengan budaya bangsa yang sarat akan nilai-nilai luhur.

Budaya saling menghargai, saling menghormati, sopan-santun, gotong-royong, bekerjasama, toleransi, kesederhanaan, kemandirian serta budaya luhur bangsa lainnya telah diterapkan di dalam kehidupan pesantren sejak  ratusan tahun yang lalu hingga sekarang. Sehingga sangat mustahil jika masih saja ada orang yang menyebutkan bahwa akar terjadinya gerakan radikalisme maupun aksi terorisme yang terjadi di negeri ini akibat pendidikan yang diajarkan di dalam pondok pesantren.

Pondok pesantren merupakan miniatur dari bangsa Indonesia, karena berawal dari pesantren pula bangsa ini bisa merdeka. Pesantren memiliki peran yang sangat besar, baik bagi kemajuan Islam itu sendiri maupun bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan.  


3 komentar:

  1. wah aku aykin sih dengan NU, mereka juag sanagt mengharagai kearifkan lokal dan itu yang membuat NU begitu hebat saat ini dan sangat menghargai perbedaab

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat mas,

      salam dari saya
      terima kasih atas kunjungannya

      Hapus
  2. Pesantren sebagai gerbang pendidikan agama memang memegang peranan yang sangat kuat dalam menanamkan budaya toleransi dan saling menghargai sehingga sangat kuat dalam membentengi generasi mudah dari tindak radikalisme

    BalasHapus