Kamis, 10 September 2015

Kesabaran, Kunci Mendidik Anak Berkebutuhan Khusus

Menjadi pendidik bagi anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus adalah salah satu hal bisa dikatakan  dihindari oleh calon-calon guru, kecuali mereka yang memang selama kuliah memang memilih jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) sebagai jurusan yang mereka pilih. Hal tersebut wajar saja karena mendidik dan mengajar anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus sangat berbeda dengan mendidik anak-anak di sekolah reguler  pada umumnya. Salah satunya tentu saja soal kesulitan dalam mendidik siswa-siswi sekolah luar biasa.

Apalagi jika di SLB tersebut terdapat berbagai jurusan, mulai dari tuna netra (A), tuna rungu (B), tuna grahita ringan dan sedang (C, C1), tuna daksa (D), tua laras (E), tuna ganda (G) dan autis. Maka bisa dipastikan dalam sekolah tersebut akan terdapat banyak sekali tingkat kesulitan yang sangat luar biasa dalam mendidik anak-anak tersebut, tentu saja dengan berbagai kemampuan mereka yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya dan dengan berbagai kekurangan yang mereka miliki.
 
Belajar di kelas pun tetap bermain (Dok. Pribadi)
Saya sendiri merasakan betul sebagai seorang lulusan dari jurusan pendidikan agama Islam Fakultas Tarbiyah UIN Walisongo Semarang yang merasa kesulitan saat mengajar  di SLB, apalagi menjadi salah satu pendidik di SLB bukanlah impian awal saya. Awalnya saya memang berkeinginan menjadi seorang wartawan, akan tetapi karena dorongan orang tua terutama ibu yang ingin salah satu anaknya menjadi seorang guru maka akhirnya mau gak mau saya berusaha mewujudkan keinginan orang tua tersebut. Dan setelah mendaftar ke sana-sini akhirnya saya diterima sebgai guru PAI di SLB Negeri Ungaran Kabupaten Semarang Jawa Tengah dengan predikat guru wiyata bakti.

Awal masuk kedunia ini seakan asing bagi saya , apalagi saya harus menghadapi anak-anak yang sebelumnya belum pernah sekalipun saya bersosialisasi dengan anak yang memiliki kebutuhan khusus. Waktu pertama kali masuk setelah diterima, saya bertemu guru senior yang sudah sekitar 25 tahun mengabdikan hidupnya untuk mengajar anak-anak berkebutuhan khusus. Saat itu beliau hanya berpesan kunci mengajar anak SLB hanya satu mas, apa pak tanyaku “Kudu Sabar”. Ya, itulah yang hingga saat ini aku pegang, bahwa  memang benar mengajar anak berkebutuhan khusus modal utamanya bukanlah kepandaian tetapi kesabaran.

Terus terang saya pernah berniat keluar dari tanggungjawab menjadi guru PAI ketika baru dua minggu mengajar, masalahnya  adalah saya sempat stress tidak bisa mengajar terutama mengajar anak-anak jurusan B (tuna rungu), saya bingung dengan metode apa saya harus mengajar, ceramah tidak mungkin karena mereka tidak mendengar, dengan bahasa isyarat saya tidak bisa bahasa isyarat,  saya juga tidak pernah mendapatkan mata kuliah metode pengajaran khusus anak SLB. Bukan itu saja, baru dua minggu mengajar, saya ketemu peristiwa yang tidak mengenakkan, ada siswa pipis di kelas, siswa ngobrok (buang air besar) di kelas, siswa berperilaku aneh-aneh di kelas dan lain sebagainya. Hal itu membuat  saya stress dan ingin keluar dari pekerjaan tersebut, namun atas nasehat orang tua serta dosen saya selama kuliah maka profesi tersebut saya lanjutkan hingga sekarang.

Saya juga pernah mengalami pengalaman yang tidak mengenakkan, pernah saya di lempar dua orang siswa jurusan tuna laras (E) yaitu anak-anak yang nakal dan anti sosial dengan sepatu mereka sewatu menulis di depan kelas. Pernah pula saya dikencingi dari belakang oleh anak tuna laras saat saya barui keluar kelas mau istirahat dan berbagai pengalaman yang tidak mengenakkan lainnya, akan tetapi hal tersebut saya anggap sebagai pengalaman berharga dan saya tidak pernah marah karena memang itulah kondisi mereka, dan saya sebagai pendidik harus tetap sabar dalam menghadapi anak-anak berkebutuhan khusus tersebut.

Saat ini di samping harus memiliki tingkat kesabaran yang tinggi, saya menganggap bahwa mendidik anak-anak berkebutuhan khusus juga harus dijadikan sebagai sarana belajar karena melalui merekalah saya mendapatkan berbagai pelajaran hidup yang berharga, misalnya anak-anak berkebutuhan khusus selalu ceria, mereka seakan tidak memiliki beban hidup meskipun sesungguhnya mereka memiliki kekurangan. Saya juga belajar bagaimana bersyukur dengan apa yang saya miliki saat ini karena ternyata saya merupakan salah satu orang yang diberikan kelebihan dibanding anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus.

Sudah memasuki delapan tahun saya mengajar di SLB memberikan saya sebuah pelajaran berharga bahwa Allah menciptakan makhluknya dengan berbagai kelebihan dan kekurangan masing-masing, namun hal tersebut bukan merupakan kegagalan penciptaan karena Allah tidak pernah gagal dan Allah Maha Sempurna. Tentu dibalik kekurangan yang dimiliki anak-anak berkebutuhan khusus ada kelebihan yang mereka miliki dan ada hikmah besar atas semua ini, salah satunya adalah pelajaran kepada kita semua bahwa melalui anak-anak berkebutuhan khusus kita bisa belajar untuk senantiasa hidup sabar dan menerima segala sesuatu yang telah dianugerahkan oleh Allah dengan ikhlas.

1 komentar:

  1. Memang perlu kesabaran luarbiasa buat mengajari mereka berbagai hal. Semoga selalu diberi ketetapan hati. :)

    BalasHapus