Kamis, 27 Agustus 2015

Kontroversi Sekolah Lima Hari

Program sekolah lima hari yang mulai berlaku di Jawa Tengah tampaknya tidak disambut dengan baik oleh semua komponen yang berkaitan langsung dengan dunia pendidikan. Pro dan kontra di masyarakat pun terjadi seiring berlakunya program sekolah lima hari. Ada yang sudah melaksanakan ada pula yang belum. Kontroversi sekolah lima hari tersebut tampaknya akan berbuntut panjang karena sebagain pihak merasa keberatan.

Sebanyak empat kabupaten/kota di Jawa Tengah secara resmi melayangkan surat keberatan dan tidak siap menjalankan Surat Edaran Gubernur Jawa Tengah Nomor 420/00675/2015 tentang lima hari sekolah. Empat daerah tersebut adalah kabupaten/kota Solo, Pekalongan, Boyolali dan Temanggung (SM, 7/8/2015). Meskipun ada penolakan dari empat daerah tersebut pelaksanaan sekolah lima hari bagi SMA, SMK dan SLB di Jateng terus berlanjut dan akan dievaluasi setelah satu tahun berjalan.
 
Kegiatan Olah Raga di Sekolah (Dok. Pribadi)
Kebijakan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebenarnya memiliki tujuan yang sangat baik yaitu agar para siswa bisa memiliki waktu yang lebih lama untuk berkumpul bersama keluarga yaitu pada hari Sabtu dan Minggu. Namun demikian kebijakan tersebut menui pro dan kontra di masyarakat Jawa Tengah. Mereka yang pro beralasan bahwa anak memang membutuhkan waktu yang lebih banyak dengan keluarga agar orang tua juga bisa mempunyai kesempatan mendidik anaknya di rumah lebih banyak.

Adapun yang kontra berpendapat bahwa sekolah lima hari justru akan menambah beban siswa karena waktunya belajar di sekolah menjadi lebih panjang. Bukan hanya itu saja sekolah lima hari juga dianggap bisa mengancam pendidikan madrasah diniyah yang di beberapa daerah rata-rata dilaksanakan mulai pukul 15.00-17.00 WIB. Alasan siswa kesulitan transportasi saat pulang sore juga menjadi salah satu faktor utama kenapa beberapa daerah di Jawa Tengah menolak program lima hari sekolah. Belum lagi hilangnya kesempatan siswa untuk mengikuti ekstrakurikuler sekolah dan les privat di beberapa lembaga bimbingan belajar menjadi program lima hari sekolah dianggap layak untuk ditolak.

Bagi penulis sendiri kebijakan Gubernur Jateng tentang lima hari sekolah merupakan salah satu program di sektor pendidikan yang perlu mendapat dukungan dari semua pihak. Karena bagaimanapun juga tujuan agar siswa lebih banyak memiliki waktu bersama keluarga layak menjadi pertimbangan, selain agar orang tua memiliki kesempatan untuk lebih banyak menanamkan pendidikan karakter kepada anak-anaknya.

Namun disisi lain alasan keberatan beberapa daerah untuk tidak melaksanakan kebijakan lima hari sekolah dari Gubernur patut menjadi perhatian. Karena bagaimanapun juga dampak yang diakibatkan oleh suatu kebijakan yang merasakan adalah masyarakat di daerah bukan para pejabat yang membuat aturan. Oleh sebab itulah seyogyanya Gubernur dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah perlu mencarikan solusi yang tepat agar program lima hari sekolah tidak menimbulkan dampak negatif di masyarakat.

Pembelajaran Efektif

Kunci persoalan yang ditimbulkan akibat program lima hari sekolah sebenarnya terletak pada konsekuensi lamanya jam belajar siswa. Jika sebelumnya pada enam hari sekolah jam belajar siswa mulai pukul 07.00 - 13.30 atau14.00 WIB kecuali hari Jum’at dan Sabtu, maka pada lima hari sekolah jam belajar siswa dimulai pukul 07.00-16.00 WIB. Lamanya jam belajar inilah yang dianggap bisa membuat siswa akan menjadi lebih terbebani dan bisa menghilangkan kesempatan siswa untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, les dan privat di luar sekolah maupun waktu untuk mengaji.

Bagi penulis sendiri keberhasilan proses pembelajaran di sekolah sebenarnya bukan hanya ditentukan dari lamanya belajar sampai sore maupun hari yang lebih banyak. Akan tetapi keberhasilan proses pembelajaran lebih ditentukan oleh seberapa efektif guru dapat menyampaikan materi pelajaran kepada anak didiknya dengan metode pembelajaran yang menarik. Selain itu agar pembelajaran lebih efektif dan berhasil maka sarana dan prasarana penunjang pembelajaran harus memadai.

Kata kuncinya terletak pada sumber daya manusia (guru) dan juga sarana dan prasarana. Jika guru sudah profesional ditambah dengan sarana-prasarana pembelajaran di sekolah yang mamadai maka niscaya akan tercipta proses belajar-mengajar yang efektif, efisien dan menyenangkan. Oleh sebab itulah agar program lima hari sekolah menjadi efektif dan berhasil kuncinya bukan terletak pada penambahan jam belajar siswa akan tetapi lebih pada peningkatan sumber daya guru dan peningkatan sarana-prasarana sekolah.

Oleh sebab itulah untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru maka pemerintah  dalam hal ini dinas pendidikan harus sering mengadakan pelatihan peningkatan kompetensi bagi guru. Selain itu penambahan fasilitas pembelajaran di sekolah-sekolah juga harus menjadi prioritas. Harapannya jika kedua hal tersebut dapat terpenuhi maka proses pembelajaran di sekolah akan menjadi lebih efektif dan berkualitas.

Jika pembelajaran siswa sudah berkualitas maka program sekolah lima hari yang dicanangkan oleh gubernur Ganjar Pranowo tentu akan dapat berjalan efektif tanpa harus menambah jam belajarsiswa hingga sore. Sehingga dalam hal ini siswa tidak dirugikan dan tetap bisa mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sekolah, bisa ikut les dan privat serta tetap bisa mengikuti kegiatan mengaji di rumah. Dan yang paling penting para siswa bisa mendapatkan waktu yang lebih lama untuk berkumpul bersama keluarga karena hari Sabtu dan Minggu libur.

1 komentar:

  1. Sarana prasarana yang kurang menunjang kebutuhan pembelajaran memang sangat berpengaruh pada hasil yang di harapkan pada pembelajaran.
    maaf sebelumnya kudet nih, kalau disana apa kurtilas masih ada, apa sekolah-sekolah tertentu saja?

    BalasHapus