Senin, 26 Mei 2014

Stop Kekerasan di Sekolah

Sedih dan sangat prihatin, itulah ungkapan yang mewakili perasaan saya saat ini ketika melihat dunia pendidikan sedang dirundung banyak masalah. Salah satu masalah yang akhir-akhir mencoreng dunia pendidikan adalah terjadinya berbagai tindak kekerasan di lingkungan sekolah. Sungguh sangat disayangkan tentunya, sekolah yang dianggap sebagai salah satu tempat suci ternoda oleh perbuatan-perbuatan oknum yang tidak bertanggungjawa. Oknum tersebut bukan saja dilakukan oleh guru ataupun karyawan tetapi juga dilakukan oleh siswa.

Kekerasan, istilah yang saat ini tengah populer di telinga masyarakat Indonesia, apalagi jika dikaitkan dengan dunia pendidikan, lebih-lebih jika dikaitkan dengan sekolah. Sesunggguhnya istilah kekerasan dengan sekolah tidak ada hubungan yang signifikan, mengingat keduanya merupakan entitas yang memiliki arti sangat konttradiktif. Sekolah merupakan tempat yang diangggap suci oleh masyarakat karena di dalamnya berlangsung proses pendidikan, proses transfer ilmu pengetahuan dan moral, tempat dimana generasi muda bangsa ini dididik untuk menjadi pemimpin bangsa di masa yang akan datang.
 
Gambar dari sini
Sedangkan kekerasan sendiri merupakan salah satu perilaku negatif yang sangat dibenci oleh masyarakat kita. Dibenci karena dampak yang ditimbulkan sangat merugikan masyarakat secara luas, maupun kelompok maupun individu tertentu. Oleh sebab itulah "kekerasan"dianggap sebagai salah satu perilaku yang sangat dilarang tumbuh dinegeri ini. Lalu apakah kekerasan yang dibenci dan dilarang berkembang di negeri ini hilang? jawabnya tidak, justru meskipun dilarang dan dibenci, ternyata kekerasan justru tumbuh dan berkembang hampir disemua lini kehidupan masyarakat.

Bahkan kekerasan juga tumbuh dan berkembangkan dilingkungan yang dianggap sakral dan suci oleh masyarakat yaitu sekolah. Sekolah yang semula dianggap aman dan nyaman oleh masyarakat karena sebagai tempat belajar, berubah menjadi tempat yang sangat menakutkan karena sering dijadikan sebagai wahana untuk melakukan kekerasan. Hal itu pula yang pada akhirnya menjadikan orang tua siswa banyak yang memilih mendidik anaknya dengan sistem Home Schooling.

Sungguh sesuatu yang sangat disayangkan jika fungsi sekolah berubah, bukan lagi sebagai tempat yang nyaman untuk belajar belajar melainkan tempat yang menakutkan yang menjadikan para siswa belajar dalam kekhawatiran. Salah satu jalan untuk mengembalikan fungsi sekolah tak lain adalah dengan "Stop Kekerasan di Sekolah". Caranya adalah dengan mengoptimalkan seluruh kemampuan segenap warga sekolah terutama guru untuk dapat menjadi teladan yang baik bagi anak didiknya. Guru tidak boleh melakukan tindakan-tindakan yang justru menyebabkan terjadinya kekerasan di sekolah.

Banyak sekali kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah yang di dominasi pelakunya adalah guru dan korbannya adalah siswa. Oleh sebab itulah menjadi koreksi dan refeleksi bagi semua guru di Indonesia untuk bersama-sama melakukan gerakan stop kekerasan di sekolah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar