Selasa, 08 April 2014

Pendidikan Berpolitik Bagi Siswa SLB

Pendidikan berdemokrasi memang wajib diajarkan kepada anak didik, terutama kehidupan berdemokrasi di sekolah. Seperti kita ketahui bersama, biasanya praktek kehidupan berdemokrasi di sekolah dilaksanakan dalam bentu pemilihan ketua kelas, maupun pemilihan ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Jika di zaman dulu pemilihan ketua kelas, sering dilakukan dengan cara penunjukkan oleh guru kelas, maka saat ini hal tersebut tidak berlaku karena biasanya dilakukan dengan cara pemilihan oleh siswa se kelas.

Begitu juga dengan penunjukkan ketua OSIS yang dulu biasanya dipilih oleh pihak sekolah, maka saat ini dilakukan dengan cara pemilihan langsung oleh semua siswa di sekolah. Bahkan pemilahn tersebut diselenggarakan layaknya pemilu legislatif maupun pemilu presiden yang dilakukan di negeri ini. Yaitu, ada panitianya, ada kampanye, penyampaian visi-misi calon, hingga pemungutan suara. Semua itu dilakukan tak lain sebagai sarana pembelajaran berdemokrasi bagi siswa di sekolah.

Lalu bagaimana jika siswa dihadapkan pada pelaksanaan pemilu tahun 2014 ini, ternyata sebagian siswa sekolah yang sudah memiliki hak pilih memiliki aneka ragam tanggapan dengan rencana untuk mencoblos. Berbagai pengakuan polos pun terlontar dari beberapa siswa SLB N Ungaran yang kebetulan merupakan tempat dimana aku mengabdi. Ada beberapa siswa SMALB yang memang kebetulan telah memiliki hak pilih pada pemilu tahun ini.

Dalam beberapa kesempatan, saya sering tanya kepada mereka, mau pilih partai apa pada pemilu 9 April besok? ada yang jawab pilih partai bergambar A dengan alasan keren, ada yang mau coblos partai B karena ikut orang tua, ada pula yang pingin coblos partai C karena dikasih uang saat kampanye. Ya, itulah beberapa pengakuan lugu anak-anak SLB, yang memang masih memandang pemilu sebagai acara yang biasa saja. Karena memang mereka anak-anak berkebutuhan khusus, sehingga apapun yang akan mereka coblos dalam pileg dan pilpres tahun ini adalah hak mereka.

Namun, yang patut untuk dicatat adalah, bahwa mereka juga belajar bagaimana untukk hidup berdemokrasi, yaitu menentukan pilihan dan wakil rakyat sesuai dengan yang mereka yakini. Meskipun di satu sisi mereka kurang mengetahui segala konsekuensi atas pilihan tersebut, akan tetapi yang mereka lakukan merupakan salah satu bukti dan tanggungjawab mereka sebagai warga negara Indonesia yang baik yang mau mengggunakan hak dan kewajibannya. 

Apapun pilihan siswa SLB yang saat ini sudah memiliki hak pilih semoga akan membawa perubahan bangsa ini lebih baik, amien.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar