Kamis, 13 Maret 2014

UN, Momok Menakutkan

Apa yang paling ditakuti oleh siswa di sekolah? Tentu saja beragam jawaban akan muncul dari para siswa, mereka bisa menjawab dengan jawaban diantaranya: guru yang galak, banyak tugas (PR), atau mata pelajaran yang sulit. Semua jawaban tersebut tentu saja tidak salah, mengingat setiap siswa memiliki persepsi yang berbeda-beda soal apa yang ditakutkan mereka. Namun lain lagi ketika para siswa, khususnya yang merasa sudah kelas III SMP/SMA ada satu hal yang paling mereka takutkan selama sekolah, satu hal tersebut tak lain adalah Ujian Nasional.


Ujian Nasional (UN) memang masih menjadi momok yang paling menakutkan bagi siswa di Indonesia, sehingga tak jarang saking menakutkannya banyak sekali para siswa yang stres dibuatnya. Bukan hanya menjadi momok bagi siswa saja, para guru dan juga orang tua siswa ikut menerima imbas dari Ujian Nasional tersebut. Melihat hal tersebut menunjukkab bahwa UN masih menjadi ujian sekolah yang paling sakral yang harus dilalui oleh siswa sehingga menjadikannya sebagai ujian yang menakutkan.

Menjelang diselenggarakannya UN, sekolah-sekolah intens melakukan pengayaan terhadap para siswanya yang akan mengikuti UN, khususnya pada mapel yang akan di UN-kan. Bukan hanya di sekolah, orang tua siswa juga membuat jurus dengan mendatangkan guru privat, maupun mendaftarkan putra-putrinya untuk mengikuti berbagai bimbingan belajar meskipun harus merogoh kocek yang tidak sedikit. Semua itu dilakukan semata-mata hanya agar putra-putri mereka bisa lulus Ujian Nasional.

Melihat fenomena yang luar biasa tersebut, menunjukkan adanya salah tafsir bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, dan juga kalangan praktisi pendidikan. Seharusnya UN jangan dipahami sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan dipandang sebagai salah satu ujian yang biasa, hal itu perlu dilakukan agar ketika menghadapi UN tidak merasakan ketakutan yang luar biasa, tetapi biasa saja. Begitu juga para siswa harus diberi pengertian yang bijak, supaya memandang UN sebagai ujian biasa, agar mereka tidak stres memikirkan UN dan menjalaninya dengan proses yang sewajarnya tanpa adanya tekanan.

Begitu juga dalam hal belajar, karena UN merupakan ujian untuk mengulang segala sesuatu yang berkaitan dengan materi pelajaran yang sudah diajarkan, seharusnya bisa disikapi juga dengan sewajarnya Tidak harus memaksakan siswa untuk menguasai semua pelajaran dan menghafalkan semua pelajaran yang telah dipelajari. Ingat, kemampuan otak setiap orang berbeda-beda, jadi jangan sampai membuat siswa stres hanya ggara-gara harus menghafal banyak rumus Matematika, Fisika, maupun kimia, atau menghafal banyak teori-teori yang pelajaran lain yang di UN-kan.

Sebaiknya, UN dihadapi dengan penuh ketenangan dan dengan banyak berdoa, meskipun ikhtiar dengan belajar tetap harus dilakukan. Akan tetapi janganlah menjadikan UN sebagai sebuah momok menakutkan lagi supaya siswa bisa menjalani proses UN dengan tenang, nyaman, serta lebih berkonsentrasi. Dan ada baiknya pula jika ke depan UN jangan dijadikan sebagai satu-satunya sarana penilaian keberhasilan siswa selama ia sekolah, karena hal itu tidak adil.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar