Jumat, 03 Januari 2014

Belajar dari Guru Besar

Menarik sekali apa yang ditulis oleh saudara Ngalimun tentang “Sinyal Positif Gerakan Profesor Mengajar” (Suara Merdeka, 14/2013). Dalam tulisanya Ngalimun memaparkan bahwa ada lima hikmah utama yang bisa dipetik dari gerakan  ”Professor Unnes Go to Schools” yaitu motivasi bagi guru untuk mendidik lebih baik, bukti kepedulian profesor terhadap pendidikan di bawah perguruan tinggi, adanya sinergi keilmuan, penerang atas polemik kurikulum 2013  serta memperbaiki pendidikan adalah tugas bersama.
  
Gerakan profesor mengajar yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Semarang (UNNES) merupakan sebuah ide brilian yang patut kita apresiasi. Karena selama ini ada kesan bahwa profesor hanya mempunyai tugas untuk mengajar mahasiswa di perguruan tinggi, sementara tugas mendidik dan mengajar para siswa merupakan tanggungjawab para guru semata. Namun semua kesan itu terpatahkan dengan adanya gerakan profesor mengajar yang dimotori oleh Unnes. 

Mengajar mahasiswa dengan siswa tentu memiliki banyak sekali perbedaan, yaitu pertama, mahasiswa merupakan peserta didik yang sudah mandiri sementara siswa sekolah berproses untuk bisa mandiri. Dalam hal ini tentu saja akan lebih mudah mengajar mahasiswa karena ketika mereka diberikan tugas oleh pendidiknya mereka akan menyelesaikan dengan sendirinya. Sementara siswa harus senantiasa dibimbing, diarahkan dan didampingi. 

Kedua, mahasiswa merupakan pribadi yang sudah stabil secara intelektual, mental dan emosional sementara siswa biasanya adalah pribadi yang masih labil  baik mental dan emosionalnya. Oleh sebab itulah mendidik siswa sekolah yang masih labil akan lebih sulit dibandingkan dengan mendidik para mahasiswa yang sudah mapan dalam hal berpikir, bersikap dan bertindak.

Ketiga, perbedaan dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran di perguruan tinggi lebih fokus kepada kemandirian mahasiswa (student centered) sementara proses pembelajaran di sekolah biasanya lebih mengandalkan kemampuan guru (teacher centered). Hal itulah yang akhirnya menjadikan pembelajaran di PT lebih dinamis (fleksibel) sementara proses pembelajaran di sekolah cenderung statis (kaku).

Oleh sebab itulah dengan adanya gerakan profesor mengajar di sekolah-sekolah diharapkan akan mampu memberikan warna baru serta perubahan yang cukup signifikan terhadap proses pembelajaran di sekolah-sekolah agar lebih dinamis dan menyenangkan. 

Khusus bagi para guru, adanya gerakan ”Professor Unnes Go to Schools” hendaknya dijadikan sebagai sebuah moment untuk melakukan perbaikan dalam proses mengajar. Para guru yang sekolahnya kebetulan didatangi oleh para guru besar Unnes tersebut seharusnya dapat mengambil pelajaran bagaimana seharusnya menjadi pendidik dan pengajar yang benar-benar profesional bagi peserta didiknya. 

Guru harus bisa meneladani apa yang dilakukan oleh para guru besar Unnes dalam mengajar siswa sekolah. Penulis yakin bahwa metode yang digunakan oleh seorang profesor dalam mendidik siswa berbeda dengan kebiasaan yang dilakukan oleh para guru. Keluasan ilmu pengetahuan, pengalaman dan metode yang dimiliki oleh guru besar tentu akan menjadikan proses pembelajaran menjadi semakin menarik dan berkualitas.

Bukan hanya itu saja, guru diharapkan tidak malu untuk bertanya dan berdiskusi dengan para profesor tentang berbagai permasalahan yang dihadapi saat proses pembelajaran berlangsung. Penulis yakin, para guru besar yang tergabung dalam program ”Professor Unnes Go to Schools” akan dengan senang hati memberikan masukan dan solusi yang bijak tentang bagaimana seharusnya menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh guru dalam proses pembelajaran.

Program ”Professor Unnes Go to Schools” merupakan langkah awal untuk memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia secara umum, khususnya pendidikan di Jawa Tengah. Gerakan ini harus menjadi motivasi bagi perguruan tinggi lainnya untuk melakukan hal serupa sebagai wujud kepedulian untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Khusus bagi para guru sekolah, moment gerakan profesor mengajar harus dijadikan sebagai sarana pembelajaran untuk meningkatkan dan memperbaiki kualitas diri agar benar-benar menjadi guru (pendidik) yang  profesional.

1 komentar:

  1. semoga para profesor ngga stres ngadepin anak2 sekolah yah,, semoga dunia pendidikan lebih maju lagi!

    BalasHapus