Senin, 02 Desember 2013

Anggaran Tinggi vs Kualitas Rendah

Membicarakan kondisi pendidikan di Indonesia saat memang serba membingungkan, mau bilang bahwa pendidikan Indonesia berkualitas dan maju namun kenyataannya berkata sebaliknya. Mau mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia memiliki kualitas yang rendah, namun disisi lain beberapa pelajar Indonesia justru menorehkan berbagai prestasi membanggakan di kancah internasional. Lalu bagaimana memberikan penilaian terhadap kondisi pendidikan nasional kita saat ini?


Memberikan penilaian terhadap kualitas pendidikan di Indonesia tentu bukan persoalan yang gampang, karena banyak sekali aspek yang harus dinilai dan menjadi bagian dari proses penilaian itu sendiri. Dan kurang bijak rasanya jika kita melakukan penilaian namun tidak melihat aspek lain sebagai standar yang harus kita nilai. Misalkan saja, kita mengatakan dan menilai bahwa pendidikan Indonesia sedang terpuruk, namun disaat yang bersamaan justru banyak peserta didik dari semua jenjang pendidikan yang ada di Indonesia menyabet juara berbagai lomba maupun olimpiade pengetahuan tingkat internasional. 

Hal tersebut tentu akan bertolak belakang ketika kita sama-sama terpuruk disatu sisi, namun di sisi lain kita juga berjaya. Namun, dalam hal ini penulis memberikan batasan penilaian dalam sudut pandang penulis sendiri, serta menurut pengamatan, analisis serta kesimpulan penulis. Sehingga dalam penilaian ini memang sangat subjektif, dimana kondisi pendidikan Indonesia dilihat dari kacamata seoarang blogger yang memang kebetulan juga berada dalam pusaran sistem pendidikan nasional.

Secara jujur, saya menilai bahwa kondisi pendidikan Indonesia sedang dalam masa memprihatinkan atau dalam bahasa kedokteran bisa saya katakan dalam kondisi sakit. Hal itu bisa dinilai dari berbagai aspek yang melingkupinya, misalkan saja soal kurikulum yang selalu berubah-ubah, kebijakan pendidikan yang syarat muatan politis, kualitas para pendidik yang masih rendah, kondisi lembaga pendidikan yang kurang tertata, serta berbagai persoalan lain yang tentu saja tidak bisa disebutkan satu persatu.

Semua persoalan tersebut akan sangat kontradiktif ketika kita membicarakan alokasi anggaran yang dialokasikan untuk sektor pendidikan. Bagaimana tidak ada sekitar 20% dari total APBN yang memang sengaja dialokasikan untuk dunia pendidikan. Tujuaannya jelas sekali, dengan dana besar diharapkan pembangunanan pendidikan serta proses pencerdasan anak bangsa bisa berjalan dengan baik serta menghasilkan generasi emas yang siap berkompetisi dengan generasi dari negara lain. Secara khusus tujuannya adalah jika sektor pendidikan bisa maju, maka akan berdampak pada kemajuan bangsa Indonesia. 

Jika bangsa ini sudah maju, bukan tidak mungkin akan menjadi salah satu negara adikuasi dimuka bumi ini dengan asumsi logis Indonesia telah memiliki kekayaan alam yang sangat luar biasa banyaknya serta dapat diolah sendiri oleh generasi penerus bangsa ini. Dengan demikian, maka kejayaan Indonesia dimasa mendatang jelas bukan sebatas mimpi semata. Namun, sayang hingga saat ini hal tersebut masih sekedar impian dan harapab, karena kenyataannya kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah dan kalah bersaing dengan kualitas pendidikan negara-negara tetangga.

Rendahnya kualitas pendidikan kahirnya berimbas pada rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia. Hal itu akhirnya berdampak pada stagnasi pembangunan di negeri ini. Jika hal ini terjadi terus-menerus bukan hal yang mustahil bangsa Indonesia akan menjadi bangsa terbelakang pada masa mendatang. Solusi dari persoalan tersebut tentu saja memaksimalkan anggaran yang ada untuk digunakan sebaik-baiknya demi meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Semoga ke depan Indonesia menjadi negara maju dengan pendidikan yang berkualitas.Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar